CEO Nokia: Nokia, Platform yang Sedang Terbakar

Posted on February 11, 2011

0


Di bawah kepemimpinan Stephen Elop yang belum genap setahun, Nokia kelihatannya bakal melakukan perubahan strategi secara radikal. Banyak spekulasi beredar bahwa Nokia bakal beralih menggunakan Windows Phone 7 dari Microsoft untuk mendongkrak kualitas smartphone buatannya. Bahkan, tak menutup kemungkinan Android digunakan Nokia.


Apakah Nokia akan mengubah strategi atau tetap bertahan dengan Symbian yang diandalkannya selama ini kemungkinan bakal ditegaskan Stephen Elop di London, Inggris, Jumat (11/3/2011) ini. Jelang momen menentukan tersebut, kini beredar memo dari Stephen Elop kepada para karyawan Nokia di sejumlah situs web. Meski tak ada konfirmasi resmi dari Nokia, sejumlah sumber meyakini memo tersebut benar ada.

Dalam memo yang dikeluarkan untuk para karyawannya, Elop menekankan pentingnya bagi Nokia untuk segera mengubah haluan untuk bisa tetap bersaing dengan para pesaing yang makin kuat. Nokia disebutnya platfrom yang sedang terbakar. Berikut isi lengkap memo tersebut yang beredar di internet.

 

Halo semua,

Ada sebuah cerita mengenai seorang laki-laki yang bekerja di rig pengeboran minyak di North Sea. Suatu malam, ia terbangun karena mendengar ledakan keras yang tiba-tiba membakar tempatnya bekerja. Selanjutnya, ia pun dikepung api yang menyala-nyala. Meskipun di mana-mana asap dan panas, ia tetap berusaha menghindar ke pinggiran rig. Ketika ia melihat ke bawah, yang dihadapinya cuma perairan Atlantik yang gelap dan dingin.

Saat api mulai menghampirinya, ia cuma punya waktu memutuskan dalam hitungan detik. Apakah ia harus tetap berdiri di tempatnya dan bakal terbakar habis. Atau, ia harus menceburkan diri ke lautan yang dingin 30 meter di bawahnya. Pria tersebut sedang berdiri di platform yang terbakar dan harus mengambil keputusan.

Ia memutuskan untuk melompat. Hal tersebut memang di luar dugaan. Dalam kondisi normal, pria tersebut tidak akan pernah mau menceburkan diri ke perairan yang sangat dingin. Namun, saat ini bukan kondisi yang normal-platformnya sedang terbakar. Laki-laki tersebut selamat di perairan yang dingin. Setelah diselamatkan, ia menyatakan bahwa platform yang terbakar telah membuatnya mengubah perilakunya.

Kita semua juga begitu, sedang berdiri di platform yang sedang terbakar dan kita harus memilih akan ke mana untuk mengubah kebiasaan.

Selama beberapa bulan, saya telah berbagi dengan Anda semua apa-apa yang telah saya dengar dari para stakeholder, operator, developer, suplier, dan dari Anda semua. Hari ini, saya akan berbagi tentang apa-apa yang telah saya pelajari dan apa yang saya yakini.

Saya telah belajar bahwa saat ini kita tengah berdiri di platform yang sedang terbakar.

Dan, kita telah menghadapi lebih dari satu ledakan – kita telah mengalami hempasan panas berkali-kali yang menimbulkan kebakaran di sekitar kita. Misalnya, hempasan panas yang tinggi dari para pesaing yang lebih sering daripada perkiraan sebelumnya. Apple menggoncang pasar dengan mendefinisikan ulang smartphone dan menarik para pengembang software dalam ekosistem yang tertutup tapi sangat powerful.

Pada 2008, pangsa pasar Apple di kisaran produk dengan harga di atas 300 dollar AS hanya 25 persen. Tapi, pada 2010 meningkat menjadi 61 persen. Mereka menikmati pertumbuhan yang sangat tinggi dengan kenaikan pendapatan 78 persen dalam setahun di kuartal keempat 2010. Apple mendemonstrasikan bahwa dengan desain yang bagus, konsumen rela membeli harga tinggi untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan dan para pengembang akan membuat aplikasi untuknya. Mereka mengubah peta persaingan dan hari ini Apple memenangkan pasar kelas atas.

Kemudian, ada Android. Dalam waktu dua tahun, Android menciptakan platform yang menarik minat para pengembang aplikasi, penyedia layanan, dan produsen hardware. Android masuk ke pasar kelas atas, menang di pasar menengah, dan dengan cepat masuk ke pasar ponsel di bawah 100 dollar AS. Google telah menjadi kekuatan gravitasi, menghasilkan inovasi industri lebih besar untuk mendukung bisnis intinya.

Jangan lupa pasar kelas bawah. Pada 2008, MediaTek memasok desain referensi yang lengkap untuk chipset ponsel agar produsen di Shenzhen, China, dapat memproduksi ponsel dengan biaya sangat murah.

Diperkirakan, ekosistem tersebut kini telah memproduksi lebih dari sepertiga ponsel yang dijual di seluruh dunia-merebut pangsa pasar kita di negara-negara berkembang.

Sementara para pesaing membakar pangsa pasar kita, apa yang dilakukan Nokia? Kita jauh tertinggal, ketinggalan tren besar, dan kehilangan waktu. Saat itu, kita berpikir telah mengambil keputusan yang tepat, namun kalau ditilik ke belakang, kita saat ini ketinggalan beberapa tahun.

iPhone pertama didistribusikan tahun 2007, dan kita masih belum memiliki produk yang sebanding. Android datang baru dua tahun dan minggu ini mereka mengambil alih posisi kepemimpinan kita dalam jumlah smartphone. Sungguh tak bisa dipercaya.

Kita punya sumber daya yang hebat di balik Nokia, namun kita tidak memanfaatkannya ke pasar dengan cepat. Kita berpikir MeeGo akan menjadi platform yang memenangkan pasar smartphone kelas atas. Namun demikian, dengan kecepatan saat ini, sampai akhir 2011, kita mungkin baru punya satu produk MeeGo di pasar.

Di kelas menengah, kita punya Symbian. Ia telah terbukti tak bisa memimpin di pasar yang utama seperti Amerika Utara. Selain itu, Symbian terbukti punya lingkungan yang sulit dikembangkan seusia kebutuhan dan tuntutan pasar, paling lambat pengembangan produknya, dan juga banyak kekurangan saat harus memanfaatkan platform hardware yang baru. Hasilnya, jika kita terus bertahan, kita akan semakin tertinggal jauh di belakang, sementara para pesaing semakain maju ke depan.

Di pasar kelas bawah, OEM China mengeluarkan perangkat jauh lebih cepat, bahkan salah satu karyawan Nokia menjadikannya semacam olok-olok, “waktu yang mereka butuhkan sama dengan waktu yang kita butuhkan untuk membuat presentasi Power Point.” Mereka cepat, mereka murah, dan mereka menantang kita.

Dan, yang sebenarnya terjadi adalah kita tidak bersaing dengan senjata yang tepat. Kita masih sering berusaha melakukan pendekatan di setiap kelas dengan berbasis perangkat saja.

Pertarungan antarperangkat kini menjadi perang ekosistem, di mana ekosistem masuk tidak hanya hardware dan software saja, namun developer, aplikasi, ecommerce, iklan, search, aplikasi sosial, layanan berbasis lokasi, komunikasi terintegrasi, dan yang lainnya. Para pesaing kita tidak mengambil pangsa pasar kita dengan perangkat. Mereka mengambil pangsa pasar kita dengan ekosistem secara keseluruhan. Ini berarti kita harus memutuskan bagaimana cara membangun dan mendorong atau bergabung dengan ekosistem.

Inilah keputusan yang harus kita ambil. Sebenarnya, kita telah kehilangan pangsa pasar, kita telah kehilangan daya tawar, dan kita telah kehilangan waktu.

Pada Selasa, Standard & Poor melaporkan bahwa mereka akan memposisikan rating jangka panjang A dan jangka pendek A-1 kita pada penilaian kredit negatif. Ini mirip dengan pemeringkatan yang dilakukan Moody minggu lalu. Secara singkat ini berarti dalam beberapa minggu ke depan, mereka akan menganalisis Nokia dan memutuskan kemungkinan menurunkan rating kredit. mengapa lembaga kredit merasa perlu melakukan perubahan ini? Karena mereka mempertimbangkan tingkat persaingan kita.

Preferensi konsumen terhadap Nokia menurun di sleuruh dunia. Di Inggris, preferensi merek kita turun menjadi 20 persen, atau turun 8 persen dibanding tahun lalu. Itu berarti hanya satu dari lima orang di Inggris memilih Nokia dibanding merek lainnya. Hal tersebut juga terjadi di pasar lainnya yang selama ini menjadi pasar besar Nokia seperti Rusia, Jerman, Indonesia, Uni Emirat Arab, dan lain-lainnya.

Bagaimana kita bisa terpuruk? Mengapa kita jauh tertinggal sementara dunia di sekitar kita sedang berkembang?

Inilah apa yang saya coba pahami. Saya yakin beberapa penyebabnya karena kebiasaan di Nokia. Kita mengucurkan bahan bakar di platform yang sedang terbakar. Saya yakin kita kekurangan akuntabilitas dan kepemimpinan untuk meluruskan dan mengarahkan perusahaan di tengah situasi yang kacau. Kita telah melewatkan banyak kesempatan. Kita belum mewujudkan inovasi dengan cepat. Kita belum bekerja sama dengan erat

Nokia, platform kita sedang terbakar.

Kita kini sedang berusaha maju ke depan – berusaha untuk membangun kembali kepemimpinan pasar. Saat kita berbagi startegi baru pada 11 Februari, hal tersebut akan menjadi momentum besar untuk mentransformasi perusahaan kita. Namun, saya percaya bahwa dengan bersama-sama, kita bisa menghadapi tantangan ke depan. Bersama, kita dapat menentukan masa depan kita.

Platform yang terbakar, yang dirasakan laki-laki tersebut, membuatnya mengubah perilakunya, dan mengambil langkah berani dan tegas ke masa depan yang tidak menentu. Dia mampu menceritakan kisahnya. Sekarang, kita punya kesempatan besar untuk melakukan hal yang sama.

Stephen

Sumber: http://www.kompas.com

Posted in: Marketing